Panduan Lengkap Medis dan Klinis
Penegakan diagnosis genetik pada anak dengan disabilitas intelektual (DI) merupakan contoh penyakit langka (rare disease) masih menjadi tantangan. Penyandang disabilitas merupakan salah satu sasaran Asta Cita nomer 4 dari pemerintah dimana penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) perlu ditangani secara serius. Hingga kini penyandang disabilitas khususnya DI di Indonesia belum bisa didiagnosa secara tepat. Padahal tanpa diagnosis genetik yang jelas maka upaya pengobatan, konseling, intervensi, dan perencanaan kehamilan anak berikutnya menjadi terkendala. Akibatnya muncul diagnostic odyssey yang membuat orang tua anak yang DI mengalami ketidakpastian. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode diagnostik baru yaitu berbasis epigenetik pada kasus DI yang belum terjelaskan oleh pendekatan microarray, maupun WGS (Whole Genome Sequencing)/WES (Whole Exome Sequencing), di mana hanya sekitar 40% kasus mendapatkan diagnosis genetic.
Disabilitas intelektual ditandai oleh keterbatasan yang signifikan dalam fungsi intelektual maupun perilaku adaptif. Kondisi ini biasanya muncul sejak masa perkembangan anak. Gejala yang sering dijumpai antara lain:
Diagnosis disabilitas intelektual dilakukan dengan pendekatan medis, psikologis, dan sosial, melalui langkah-langkah berikut:
Pendekatan yang diusulkan adalah penerapan teknologi long-read nanopore dengan adaptive sampling, yang memungkinkan penargetan khusus pada region genom yang mengalami perubahan metilasi. Dengan memfokuskan sequencing pada area yang telah diidentifikasi memiliki potensi perubahan epigenetik, diharapkan penelitian ini dapat mengungkap pola metilasi yang selama ini terlewat oleh metode konvensional. Pendekatan ini mengintegrasikan teknik isolasi DNA, optimasi library preparation untuk long-read, serta pipeline bioinformatika khusus untuk analisis metilasi.
Tim YARSI memiliki pengalaman dalam menggunakan NGS Nanopore untuk menemukan adanya tingkat metilasi yang berbeda pada kasus stunting pada anak. Hasil menunjukkan adanya hipermetilasi pada gen ribosom di kromosom 21 yang penting untuk pertumbuhan, sehingga konsisten dengan fenotip stunting yang menunjukkan adanya tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia. Teknologi adaptive sampling dan pipeline bioinformatika yang sama akan diterapkan untuk memecahkan masalah diagnosa DI pada anak.
Teknologi dan pipeline analisis ini sebelumnya telah berhasil diterapkan oleh tim peneliti Universitas YARSI dalam penelitian terhadap anak-anak dengan stunting, di mana ditemukan adanya hipermetilasi pada gen ribosom di kromosom 21, yang diyakini berkaitan dengan gangguan pertumbuhan. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu mendeteksi perubahan metilasi pada gen-gen penting yang selama ini tidak teridentifikasi oleh metode konvensional.
Dengan memanfaatkan pendekatan serupa, penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi adanya pola metilasi yang abnormal pada anak-anak dengan DI, khususnya mereka yang tidak memiliki mutasi genetik yang jelas. Diharapkan, strategi ini dapat memberikan kontribusi penting dalam penegakan diagnosis molekuler penyakit langka berbasis epigenetik.
"Genetic diagnostic approach to intellectual disability and multiple congenital anomalies in Indonesia"
🏥 Tim multidisiplin yang terdiri dari Dosen Sains Biomedis, Dosen Informatika, dan ahli Biologi Molekuler.
📞 Hubungi untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut
Menara YARSI, Jl. Let. Jend. Suprapto Kav. 13. Cempaka Putih, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10510. Indonesia.
Telephone: +62(21)4206675
Fax: +62 (21)4243171
Email: info@yarsi.ac.id